Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Temukan Artikel Anda

Kamis, 10 Desember 2009

Sa’ad bin Abi Waqqash; Sosok Pemanah Pertama di Jalan Allah Nun Berjiwa Tegar


Beliau adalah sahabat yang agung, sa’ad bin Abi Waqqash –semoga Allah meridloinya- salah seorang yang pertama masuk Islam dan salah seorang calon penghuni surga dari sepuluh orang yang diberikan kabar gembira oleh Rasulullah saw sebagai calon penghuni surga tanpa dihisab.

Pada saat umurnya menginjak 17 tahun, dalam tidurnya beliau bermimpi tenggelam dilautan yang gelap gulita dan saat ia terhempas di dalamnya beliau melihat bulan; kemudian dia mengikutinya, dan sebelum dia ada tiga orang yang mendahuluinya, yaitu Zaid bin Haritsah, Ali bin abi Thalib dan Abu Bakar Ash-Shidiq, dan ketika matahari telah terbit beliau mendengar bahwa Rasulullah saw menyeru kepada agama baru; dan beliau menyadari bahwa yang dimaksud dengan sinar bulan seperti yang dilihat dalam mimpinya adalah nabi saw; beliaupun segera pergi menemui Rasulullah saw; dan ikut dengan para pendahulu yang telah masuk Islam.

Ketegaran beliau tampak saat ibunya secara kontinyu ingin menghalangi beliau dari jalan Iman, namun usahanya selalu gagal dihadapan hati yang telah terpatri dengan iman, ibunya melarang dirinya untuk makan dan minum, dan menolak pemberian makanan darinya hingga anaknya mau kembali kepada agamanya, namun dengan tegas beliau berkata kepada ibunya : “Wahai ibuku, sesungguhnya saya mencintaimu, namun cinta saya kepada Allah dan Rasul-Nya lebih aku cintai dari yang lainnya”.

Dan saat ibunya mendekati ajal akibat keengganannya untuk makan dan minum, para tetangga beliau memerintahkan sa’ad untuk menengok ibunya dan melunak hatinya hingga mau kemabli kepada agamanya semula, namun sa’ad tetap berkata kepadanya : “Wahai ibuku, ketahuilah demi Allah sekiranya engkau memiliki seratus nyawa dan keluar satu demi satu, saya tetap tidak akan goyah dari agamaku, jika engaku berkehendak maka makanlah, jika tidak mau makan maka terserah engkau, dan saat ibunya melihat akan keteguhan anaknya sehingga tidak mau kembali kepada agamanya; dia menarik kembali azamnya, kemudian mau makan dan minum; dan saat itu pula turun wahyu memberikan keberkahan terhadap apa yang telah dilakukan oleh sa’ad, Allah SWT berfirman : “Jika orang tuamu memaksa kamu untuk berbuat menyekutukan Saya (Allah) sedang kamu tidak ada pengetahun dengannya maka janganlah engkau taati dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik”. (QS. Luqman : 15)

Sa’ad selalu menemani Rasulullah saw di Mekkah sampai Allah mengizinkan kaum Muslimin untuk hijrah ke Madinah Al-Munawwarah, dan ketika kaum muslimin melakukan hijrah, beliau tetap berada disisi Rasulullah saw dalam memerangi orang-orang musyrik, dan mendapatkan kemuliaan jihad di jalan Allah, dan beliau menganggap bahwa dirinya orang yang pertama menggunakan panah di jalan Allah dan orang yang pertama menumpahkan darah orang-orang kafir.

Ketika Rasulullah saw mengutus gerilyawan yang didalamnya ada Sa’ad bin Abi waqqash ke suatu tempat yang bernama Sabig salah satu negeri di Hijaz, yang terletak disamping kota Jahfah, maka orang-orang msuyrik menyerang kaum muslimin, sedang Sa’ad saat itu menggunakan panah sebagai senjata, dan pada saat itulah pertama kali terjadinya perang dalam Islam.

Pada saat terjadinya perang Uhud, Sa’ad berdiri membentengi Rasulullah saw dan memerangi orang-orang musyrik, lalu beliau melemparkan panahnya hingga Rasulullah saw melihatnya, beliau mendoakannya dan memberikan kabar gembira, beliau bersabda : “Wahai Sa’ad, lepaskanlah panahmu taruhannya adalah ibuku dan bapakku”. (Muttafaqun alaih), setelah itu Sa’ad berkata : “Tidak pernah saya mendengar Rasulullah saw menggabungkan kedua orang tuanya setelah itu”. Sedangkan putri Sa’ad ‘Aisyah binti Sa’ad merasa bangga dan gembira, dan dia berkata : “saya adalah anak seorang yang hijrah yang Rasulullah saw memberikan taruhan pada kedua orang tuanya saat perang Uhud”.

Suatu hari Sa’ad menderita sakit, lalu Rasulullah saw datang untuk menjenguknya dan menghiburnya, maka Sa’ad pun bertanya-tanya sambil berkata : “Sungguh telah sampai pada saya penyakit, dan saya memiliki banyak harta sedang tidak ada yang mewariskannya kecuali putri saya, apakah saya boleh mensedekahkannya dua pertiga dari harta saya ? Nabi saw menjawab : “Jangan”, Sa’ad berkata lagi : “atau setengahnya”, Nabi menjawab : “Jangan”, kemudian beliau bersabda : “sepertiga saja, karena seperti sudah dianggap banyak, sesungguhnya engkau meninggalkan anakmu dalam keadaan berkecukupan lebih baik daripada engkau meninggalkannya dalam keadaan miskin dan meminta-minta kepada manusia, dan tidaklah engkau menginfakkan hartamu dengan mengharap Ridlo Allah kecuali akan diberikan ganjaran, walaupun sesuatu yang engkau letakkan dimulut istri kamu”. (Muttafaqun ‘alaih), hingga pada akhirnya Sa’ad dikarunia anak yang banyak, diantaranya adalah Ibrahim, ‘Amir, Umar, Muhammad dan Aisyah.

Rasulullah saw sangat cinta kepada Sa’ad, dari Jabir diriwayatkan, dia berkata : “Saat kami bersama Rasulullah saw, ketika itu datang Sa’ad, maka Rasulullah saw bersabda : “Ini adalah pamanku, maka lihatlah seseorang dari pamanku”. (At-Turmudzi, At-Thabrani dan Ibnu Sa’ad).

Sa’ad seorang sahabat yang doanya diijabah (dikabulkan) oleh Allah, dan Nabi pernah mendoakannya, beliau bersabda : “Ya Allah, kabulkanlah Sa’ad jika dia berdoa kepada-Mu”. ((At-Turmudzi) .

Saat Umar menjabat sebagai Khalifah, Sa’ad ditugaskan menjadi gubernur di Kuffah, dan Umar selalu memantau anak buahnya dan mencari tahu keadaan para pejabatnya, suatu hari Umar datang ke Kuffah guna meneliti pengaduan penduduk Kuffah bahwa Sa’ad saat menjadi Imam bacaannya panjang sekali, namun saat umat berjalan menelusuri masjid dan bertanya kepada penduduk sekeliling tidak ada yang mengatakan tentang Sa’ad kecuali yang baik saja, kecuali satu orang diantara mereka yang mengatakan berbeda, maka apa-apa yang telah di tuduhkan atas Sa’ad : bahwa beliau tidak adil dalam memutuskan suatu permasalahan dan tidak membagikan sesuatu dengan merata dan tidak pernah ikut dalam berperang, maka Sa’ad berdoa : “Ya Allah jika yang demikian adalah dusta, maka butakanlah matanya dan perpanjang umurnya, dan singkapkanlah fitnah yang telah disebarkannya, maka pada saat itu ada seorang laki-laki yang berjalan sambil menggenggam selimut lalu jatuhlah biji matanya, saat ditanyakan akan hal tersebut beliau berkata : “itulah orang tua yang suka memfitnah, yang telah tertimpa musibah dari doanya Sa’ad”.

Suatu hari Sa’ad mendengar seorang lelaki mencela Ali, Tolhah dan Az-Az-Zubair, kemudian beliau mencegahnya namun dia tidak mau mendengar dan tidak mau berhenti, maka Sa’ad berkata kepada orang itu : “jadi engkau mau saya doakan atasmu; orang itupun berkata : “apakah engkau mengancam saya, seakan-akan engkau seperti nabi; maka Sa’ad pun pergi, lalu berwudlu dan sholat dua raka’at kemudian beliau mengangkat kedua tangannya, dan berdoa : “Ya Allah jika engkau melihat dan mengetahui bahwa orang tersebut telah mencaci kaum yang telah Engkau berikan kebaikan kepada mereka; dan sesungguhnya juga telah memurkai orang yang mencela mereka; maka berikanlah kepadanya nasehat dan pelajaran; maka setelah itu belum berjalan lama hingga akhirnya keluarlah seekor unta yang besar dari sebuah rumah dan menyerang orang yang telah mencela para sahabat; hingga akhirnya dia tertindih oleh unta dan pada akhirnya orang tersebut mati”.

Saat terjadi penyerangan atas Pasukan Persia diperbatasan negeri Islam, Umar mengirim tentara yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqqash, hingga terjadilah perang Al-Qadisiah, dan pada saat itu kaum muslimin terkepung oleh Pasukan Persia dan sekutunya, sehingga banyak diantara mereka yang terbunuh termasuk salah seorang komandan mereka Rustum, adapun sisa dari pasukan dari Pasukan Persia merasa gentar kemudian mundur, dan kaum muslimin akhirnya mendapatkan kemenangan yang besar dalam perang Qadisiyah tersebut yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqqash. Dan bukan pada Saat itu saja Sa’ad menjadi komandan perang namun banyak peperangan lain yang beliau pimpin, seperti perang Mada’in; saat sekelompok pasukan berkuda berusaha menghadang dan menyerang kaum muslimin, dan Sa’ad menyadari bahwa saat itu pasukan Persia berada dalam posisi yang menguntungkan, maka dia memutuskan untuk menyerang mereka secara tiba-tiba, sedangkan pada saat itu sungai dajlah sedang meluap karena banjir, maka pada akhirnya kuda-kuda kaum muslimin diseberangkan disungai kemudian berjalan melalui jalan lain guna melakukan penyerangan, dan selanjutnya kaum musliminpun mendapatkan kemenangan yang besar.

Saat seorang Majusi Abu Lu’lu’ah berhasil menikam Umar bin Khattab, Umar memilih enam orang dari sahabat agar siap dipilih manjadi khalifah, dan beliau mengabarkan bahwa saat menjelang wafatnya, Rasulullah saw ridlo pada mereka, dan diantara enam orang yang terpilih adalah Sa’ad bin Abi Waqqash, kemuidan Umar berkata : “Kalau saya boleh memutuskan/memilih salah seorang dari mereka untuk menjadi khalifah maka saya akan memilih Sa’ad”, dan beliau berkata kepada orang yang ada disekelilingnya : “jika Sa’ad terpilih maka itulah dia, dan jika yang terpilih selainnya maka mintalah bantuan kepada Sa’ad, maka ketika utsman terpilih, beliau menjadikannya sebagai pembantu dalam setiap perkaranya.

Saat terjadi fitnah diakhir kekhalifahan Ali –semoga Allah meridloinya- , Sa’ad menjauh darinya; mengisolir dirinya, dan beliau memerintahkan kepada keluarganya dan anak-anaknya jangan memberikan kabar tentang keberadaannya.

Dan saat anaknya Amir datang kepadanya dan memintanya untuk ikut serta dalam memerangi orang-orang yang memerangi mereka, dan khilafah juga memintanya, Sa’ad berkata dengan lemah lembut kepada anaknya : “Wahai anakku, apakah dalam fitnah ini menyeret saya untuk menjadi gembongnya ? demi Allah tidak sama sekali sehingga saya sudi mengangkat pedang, jika saya membunuh orang muslim maka dia tidak akan merasa sakit, namun jika saya memukul orang kafir maka saya telah membunuhnya, dan saya pernah mendengar Rasulullah saw bersabda : “sesungguhnya Allah mencintai hamba yang kaya, tidak terkenal (tawadlu) dan bertakwa”. (Ahmad dan Muslim).

Pada tahun 55 Hijriyah Sa’ad mewasiatkan kapada keluarganya untuk mengkafaninya dengan kain yang lusuh yang beliau miliki, dan tidaklah ada baju yang beliau miliki yang memiliki kemuliaan begitu tinggi dari seluruh penghuni yang ada di dunia ini, dia berkata kepada mereka : “sungguh saya berperang melawan orang-orang musyrik, dalam perang Badar menggunakan baju ini, dan pada hari ini saya menyimpannya”.

Beliau wafat di desa Aqiq, kemudian jenazahnya diusung dengan unta ke Madinah, dan dikebumikan disana sebagai sahabat terakhir yang meninggal dari 10 orang yang dijamin masuk surga tanpa hisab, dan sahabat yang terakhir meninggal dari para Muhajirin.

DOWNLOAD DISINI :




Butuh info barang-barang keren dan up to date ? Kunjungi pro4shop pusatnya barang bermutu.

2 komentar:

Pat mengatakan...

Alhamdulillah akhirnya saya menemukan dan bisa membaca artikel mengenai Sa’ad bin Abi Waqqash di sini.Jazakallah.

Salam Blog mengatakan...

@Pat: Semoga bermanfaat.Jazakallah.

PASTI ANDA SUKA :

Sahabat