Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Temukan Artikel Anda

Sabtu, 24 Oktober 2009

Mengenali dan Mencegah Toxoplasmosis pada Kehamilan


ANDA merencanakan hamil atau sedang hamil? Lebih baik Anda waspada terhadap parasit yang satu ini. Parasit ini bernama toxoplasma gondii dan menimbulkan penyakit yang diberi nama toxoplasmosis. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, pria maupun wanita -- termasuk wanita hamil ataupun tidak.

Parasit ini biasanya menggunakan hewan kucing sebagai inang utamanya di samping hewan-hewan herbivora, karnivora, omnivara termasuk mamalia dan burung yang mungkin juga terinfeksi. Secara geografis, umumnya infeksi terjadi pada daerah beriklim hangat dan jarang-jarang pada beriklim dingin atau pegunungan.

Hasil penelitian Sayoga melaporkan, dari 288 ibu hamil yang diperiksa, angka kejadian ibu hamil yang di dalam darahnya positif terinfeksi toxoplasma adalah 14,25%. Dari ibu-ibu yang terinveksi itu didapatkan, 4 persalinan prematur dan 1 kasus dengan kelainan saat lahir. Hasil survei kesehatan rumah tangga yang dilakukan Hartono pada 1995 menemukan angka prevalensi zat anti terhadap toxoplasma pada wanita-wanita hamil sebesar 60,01%. "Sedangkan jumlah penderita penyakit pada hewan-hewan yang hidupnya dekat dengan manusia dagingnya dikonsumsi manusia menunjukkan angka prevalensi yang cukup tinggi yakni 15-75 %," urai Koesharyono.

Toxoplasma gondii adalah adalah parasit protozoa intraselluler. Bentuk parasit toxoplasma gondii seperti batang melengkung dengan ukuran lebih kecil dari sel darah merah (3-6 um), dapat menembus sel secara aktif dan masuk ke berbagai jaringan seperti obat, otak, mata, dan usus.

Parasit ini memiliki 3 bentuk dalam siklus hidup -- takizoit, kista (bradizoit) dan ookista. Ookista berukuran 10-12 um, mempunyai hospes definitive yaitu kucing. Dalam epitel usus kucing berlangsung siklus seksual yang kemudian menghasilkan ookista dan dikeluarkan bersama feses kucing.

Kucing yang mengandung toxoplasma gondii dalam fesesnya mengandung jutaan ookista. Ookista dapat bertahan di lingkungan untuk beberapa bulan dan tahan terhadap desinfektan, pembekuan dan tempat yang kering, namun dapat mati dengan pemanasan 70øC selama 10 menit.

Jika ookista tertelan oleh hospes perantara seperti manusia, sapi, kambing atau tikus, maka pada berbagai jaringan hospes perantara akan dibentuk kelompok-kelompok takizoit yang membelah aktif secara aseksual. Pada hospes perantara, tidak dibentuk stadium seksual tetapi dibentuk stadium istirahat yaitu kista (pseudokista) .

Mengenal Gejala

Toxoplasma dapat masuk ke dalam tubuh manusia dalam berbagai cara. Pertama, secara tidak sengaja menelan tinja kucing yang di dalamnya terdapat telur toxoplasma. Cara ini banyak tidak disadari, misalnya menyentuh mulut dengan tangan yang telah berkontaminasi seperti sehabis berkebun, membersihkan tempat makan kucing atau barang-barang lain yang sudah terkontaminasi.

Kedua, parasit ini juga dapat masuk jika mengkonsumsi daging hewan yang telah terkontaminasi dan tidak dimasak secara matang. Bentuk kista dari parasit ini dapat masuk bersama daging hewan tadi. Ketiga, masuk lewat air yang telah terkontaminasi. Dan yang jarang, jika Anda menerima transparansi organ atau transfusi darah dari donor yang telah terkontaminasi.

Jika dalam keadaan sehat, umumnya penyakit ini tidak menimbulkan gejala apa-apa atau menyerupai sakit influenza biasanya disertai pembesaran kelenjar getah bening regional yang nyeri. Gejala yang berat mungkin terjadi seperti kerusakan otak dan mata yang terutama terjadi pada penderita kekurangan daya tahan tubuh seperti HIV/AIDS atau penyakit keganasan.

Berbagai penelitian mengungkapkan, wanita yang dalam kurun reproduksinya terjangkit toxoplasmosis dapat menghadapi risiko gangguan imunitas yang bisa mempengaruhi kesuburannya. Hal ini terjadi karena parasit ini menyerang setiap sel berinti, termasuk sel gamet yang akan menimbulkan kegagalan pembuahan atau hancurnya zigot (bakal janin).

Janin yang terserang toxoplasma kemungkinan akan mengalami keguguran, janin mati, pertumbuhan janin terhambat, bayi lahir prematur, hidrosefalus, mikro-oftalmia (ukuran mata yang kecil), choriorenitis (radang pada retina mata), kebutaan, tuli, lesi otak, serta kerusakan organ yag luas.

Berat ringannya gejala tergantung dari kapan ibu hamil terinfeksi. Jika terjadi pada trisemester pertama, kemungkinannya 15-20%, pada trisemester kedua kemungkinannya 25-30%, sedangkan pada trisemester ketiga kemungkinannya 60% bayi akan ikut terinfeksi bersamaan dengan ibunya.

Namun, makin muda usia kehamilan, makin berat gejala yang akan dialami janin karena pada awal kehamilan terjadi pembentukan organ yang dilanjutkan dengan pematangan organ sampai bayi itu lahir.

Namun, 90% dari bayi yang terinfeksi tidak menimbulkan gejala apa-apa (asimptomatik) pada saat bayi itu dilahirkan. Gejala baru timbul beberapa bulan bahkan tahun setelah bayi dilahirkan. Toxoplasmosis merupakan sindroma TORCH (toxoplasma, rubella, cytamegalovirus/ CMV dan herpes simplex) yang terberat.

Diagnosis dan Pengobatan

Diagnosis toxoplasmosis pada orang dewasa sangat sulit karena penyakit itu biasanya tidak disertai gejala yang berarti. Kecurigaan baru timbul setelah anak lahir dengan kelainan dan hal itu sudah terlambat. Pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain pemeriksaan serologis (serum darah).

Pemeriksaan sering dilakukan bersama dengan rubella, cytomegalovirus, dan herpes simplex, sehingga sering disebut sebagai pemeriksaan TORCH. Seseorang dinyatakan terinfeksi toxoplasmosis jika dalam darahnya terdeteksi (imunoglobulin M) IgM antibodi dan IgG antibodi positif.

Tes ini berguna karena jika hasilnya mencurigakan, ahli kesehatan dapat melaksanakan pemeriksaan lanjutan yang menunjang seperti USG, amniocentesis (pengambilan contoh air ketuban) sehingga tindakan serta medikasi yang diberikan dapat sesuai. Tentunya hal ini akan mencegah hal-hal yang lebih buruk akan terjadi. Metode diagnosis lain yang sering digunakan adalah dengan menggunakan indirect haemglutination (IHA), immuniflourescence (IFAT) ataupun dengan enzym immunoassay (elisa). Skrining awal sangat dianjurkan, khususnya pada ibu hamil resiko tinggi.

Toxoplasmosis pada ibu hamil dengan daya tahan tubuh yang baik, biasanya tidak membutuhkan penanganan khusus. Ia tidak perlu diisolasi dari lingkungannya. Pengobatan yang ditujukan bertujuan menurunkan risiko terhadap janin.

Obat yang diberikan adalah pirimetamin oral 25 mg sehari bersama dengan sulfadiazine oral 1 gram sehari selama 28 hari. Bersama itu diberikan pula asam folat 6 mg intramuscular atau oral 3 kali seminggu. Selama pengobatan dilakukan pemeriksaan darah tepi 2 kali seminggu. Pemberian pirimetamin tidak dianjurkan pada kehamilan trimester pertama, sedangkan sulfadiazine tidak boleh diberikan pada bayi cukup bulan.

Dapat juga diberikan spiramisin dengan dosis 3 gram sehari selama 3 minggu, diulangi dengan interval 2 minggu sampai kehamilan cukup bulan. Kadang diberikan kortikosteroid, contohnya prednisone 1-2 mg/kg/berat badan/hari oral, diberikan 2 kali sehari selama proses peradangan kemudian dosis diturunkan. Wanita yang sudah pernah terinfeksi toxoplasma boleh hamil kembali bila diyakini tidak sedang terinfeksi toxoplasma. (*)

Pencegahan Toxoplasmosis pada Kehamilan

Pencegahan merupakan langkah terbaik untuk menurunkan kesakitan dan kematian akibat penyakit ini. Secara umum pencegahan dapat dilakukan sbb.;

1. Hindari mengkonsumsi daging mentah atau setengah matang, serta buah dan sayuran yang belum dicuci.

2. Sedapat mungkin kendalikan serangga-serangga yang dapat menyebarkan kotoran kucing seperti lalat dan kecoak.

3. Jika Anda memiliki hewan peliharaan kucing, jangan biarkan berkeliaran di luar rumah yang memperbesar kemungkinan kontak dengan toxoplasma.

4. Mintalah anggota keluarga lain membantu membersihkan kucing Anda termasuk memandikannya, mencuci kandang dan tempat makannya.

5. Beri makan kucing Anda dengan makanan yang sudah dimasak dengan baik.

6. Lakukan pemeriksaan berkala terhadap kesehatan kucing Anda.

7. Gunakan sarung tangan plastik ketika Anda harus membersihkan kotoran kucing.

8. Cuci tangan sebelum makan dan setelah berkontak dengan daging mentah, tanah atau kucing.

Oleh dr. I Made Arya Subadiyasa





Butuh info barang-barang keren dan up to date ? Kunjungi pro4shop pusatnya barang bermutu.

Tidak ada komentar:

PASTI ANDA SUKA :

Sahabat